Pukul Berapa yaaaaa??

Slider

18 November 2011

BIOGRAFI K.H. ABDOEL MAJID MA’ROEF RA

A. Kelahiran

Terjadi perbedaanpendapat mengenai tahun dan tanggal berapakah Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roefRA dilahirkan. Menurut Ibu Dra. Nurul Ismah Madjid ---putra kedua beliau---,diperkirakan Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA lahir pada tahun 1916. Alasanyang dikemukakan adalah bahwa ketika ibunya ---Mbah Nyai Hj. Shofiyah¬¬¬¬¬---menikah dengan ayahnya berusia 16 tahun, sebelas tahun lebih muda dari MbahK.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA. Saat ini ---saat penulis melakukan wawancaradengan Ibu Dra. Nurul Ismah Madjid--- usia Mbah Nyai Hj. Shofiyah 77 tahun.Pendapat Ibu Nurul ini dibenarkan oleh ibunya, Mbah Nyai Hj. Shofiyah jugaingat tahun pernikahannya, yaitu bersamaan dengan masa penjajahan Jepang diIndonesia (1943-1945). Adajuga pendapat yang menyatakan dengan pasti tahun kelahiran Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA yaitu tahun 1917. Dan ada pula yang menyatakan bahwa MbahK.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA lahir pada tanggal 10 Oktober 1918.
Berdasarkan data-data tersebutpendapat Ibu Dra. Nurul Ismah Madjid merupakan data yang mendekati kebenaran.Alasan yang dapat penulis kemukakan dengan menggunakan analisis sebagaiberikut. Tahun saat penulis melakukan wawancara dengan Mbah Nyai Hj. Shofiyahdikurangi dengan usia Mbah Nyai Hj. Shofiyah saat ini (2004-77=1927). Jadidapat dipastikan bahwa Mbah Nyai Hj. Shofiyah lahir pada tahun 1927, sedangkansaat menikah beliau berusia 16 tahun atau tahun 1943, tahun dimana masapenjajahan Jepang di Indonesia. Dikaitkan dengan tahun kelahiran Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA dapat diperkirakan bahwa beliau lahir tahun 1916, yaitu daritahun kelahiran Mbah Nyai Hj. Shofiyah dikurangi selisih usia Mbah Nyai Hj.Shofiyah saat menikah dengan Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA, yaitu sebelastahun (1927-11=1916). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA diperkirakan lahir pada tahun 1916, tetapi tidak diperolehdata secara pasti tentang hari serta tanggalnya.
Yang paling bergembira ataskelahiran bayi tersebut adalah K.H. Mohammad Ma’roef RA, ayah dari bayilaki-laki itu. Cahaya kegembiraan memancar dari wajahnya yang bersih danberwibawa. Terbayar sudah penantiannya yang semenjak dari tadi menunggu di luarruang persalinan. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, K.H. Mohammad Ma’roefRA menyambut kelahiran bayi laki-lakinya itu dengan rasa syukur dan do’a,kiranya Allah SWT berkenan memberikan keturunannya itu sebagai panutan bagiorang-orang yang bertaqwa.
Setelah bayi laki-laki itudimandikan, K.H. Mohammad Ma’roef RA segera melaksanaklan tugas muliasebagaimana disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu membisikkan dua hal suciadzan dan iqamat pada telinga sang bayi. Pada telinga kanannya, K.H. MohammadMa’roef RA membisikkan adzan dan iqamat pada telinga kirinya.
K.H. Mohammad Ma’roef RA kemudianmemberi nama bayi itu dengan nama Abdoel Majid. Diberi nama Abdoel Majid,dengan harapan, kelak ia mempunyai sifat yang shabar sebagaimana sifat yangdimiliki oleh kakeknya yang juga bernama Abdoel Majid, seorang kiai yang sangatterkenal akan sifat kesabarannya. Sesuai dengan tradisi Islam, pemberian namaitu diiringi dengan bacaan shalawat nabi dan do’a. Untuk itu K.H. MohammadMa’roef RA mengundang sanak kerabat dan tetangga terdekat untuk menghadiritasyakuran atas kelahiran putranya yang ke tujuh. Harum semerbak wewangiandipercikkan kepada hadirin. Beberapa helai rambut Abdoel Majid dipotong dalamprosesi itu.
Mbah K.H. Abdoel Majid RAmerupakan anak ke tujuh dari sepuluh bersaudara hasil perkawianan K.H. MohammadMa’roef RA dengan Nyai Hj. Siti Hasanah. Kesepuluh anak beliau terdiri daritiga laki-laki dan tujuh perempuan yaitu; Nyai Mustha’inah, K.H. MuhammadSayyid Yasin, Nyai Siti Aminah, Nyai Siti Saroh, Nyai Siti Asiyah, Nyai SitiRomlah, K.H. Abdoel Madjid, Kiai Abdul Malik, Siti Fatimah dan Siti Maimunah.


B. Tanda-tanda Dimasa Kecil

Seorang tokoh besar biasanyamempunyai tanda-tanda dimasa kecilnya. Demikian pula dimasa kecil AbdoelMadjid. Tanda-tanda akan menjadi ulama besar telah nampak dari masa kecilnya.Menurut Agus Nur Salim, dimasa kecilnya, Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RAtelah diwajibkan oleh ayahnya untuk membaca Shallallahu ‘ala Muhammad 100 kalidalam setiap harinya. Setelah menginjak ‘aqil baligh ayahnya melipatkan bacaanShallallahu ‘ala Muhammad menjadi 1000 kali dalam setiap harinya.
Sebagai seorang yang arif billahdan terkenal dengan keampuhan do’anya, K.H. Mohammad Ma’roef RA banyakdidatangi tamu dari berbagai kalangan, termasuk para habaib, ulama-ulama besaryang sengaja datang untuk bersilaturahmi kepada beliau. Kalau tamu yang datangdari kalangan habaib atau ulama arif billah, Nyai Hj. Siti Hasanah sambilmenggendong Gus Madjid menemui para tamu seraya berkata : “ini ndoro sayyidanak saya, do’akan agar menjadi anak yang shaleh hatinya”. Paratamu itupun langsung melaksanakan permintaan tuan rumah untuk mendo’akan GusMadjid.
Suatu ketika, saat K.H. MohammadMa’roef RA sedang bepergian datang seorang habib ke Kedunglo. Karena K.H.Mohammad Ma’roef RA tidak ada, maka habib tadi menyuruh abdi ndalem ---pengikutK.H. Mohammad Ma’roef RA--- agar memanggil Gus Madjid. Secara kebetulan GusMadjid sedang bermain dan belum mandi. Supaya tamu tidak kecewa, maka diajaklahGus Malik ---adik Gus Madjid--- yang sudah mandi dan berdandan rapi untukmenemui sang tamu. Diluar dugaan, ternyata habib tadi tahu kalau anak kecilyang berdiri di hadapannya bukanlah Gus Madjid. “Wah, ini bukan Gus Madjid.Tolong Gus Madjid bawa kemari, saya mau mendo’akannya”. Ucap sang tamu kepadaabdi ndalem. Serta merta abdi ndalem tergopoh-gopoh keluar ruangan dan segeramenemui Gus Madjid yang sedang asyik bermain mengajaknya menemui sang tamu.Begitu Gus Madjid tiba di ruang tamu, si habib langsung mendo’akan Gus Madjid.
Itulah masa kecil Mbah K.H.Abdoel Madjid Ma’roef RA yang penuh dengan nuansa religius. K.H. MohammadMa’roef RA sejak dini berusaha menanamkan kecintaan akan ilmu agama kepadaputranya itu. K.H. Mohammad Ma’roef RA dan istrinya, Nyai Hj. Siti Hasanahmemiliki harapan mulia kiranya Abdoel Madjid cinta kepada ilmu-ilmu agama,berbakti kepada orang tua, patuh dan taat kepada Tuhannya, kasih sayang kepadasesama, memiliki budi pakerti dan akhlak yang luhur dan menjadi panutan bagiorang lain.



C. Latar Belakang Pendidikan

Pada masa muda Abdoel Madjid adadua sistem pendidikan bagi penduduk pribumi Indonesia. Pertama adalah sistempendidikan yang disediakan untuk para santri muslim di pesantren yang fokuspengajarannya adalah ilmu agama. Kedua adalah sistem pendidikan barat yangdikenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan menyiapkan para siswauntuk menempati posisi-posisi administrasi pemerin-tahan, baik tingkat rendahmaupun menengah. Namun, jumlah sekolah Belanda untuk pribumi (HollandInlandsche Scholen)----mulai didirikan pada awal 1914--- sangat terbatas bagimasyarakat pribumi Indonesia.Dari kalangan masyarakat pribumi, hanya anak keluarga priyayi tinggi yang dapatmendaftarkan di sini. Masa belajar juga dibatasi hanya tujuh tahun dan merekayang berharap melanjutkan pendidikan, mereka harus pergi ke Negeri Belanda.Karena itu, hanya beberapa orang yang mendapat kesempatan ini. Namun,orang-orang Eropa dan Timur Asing ---Cina dan Arab--- mendapat kesempatan lebihbaik untuk belajar di sekolah model barat yang berkualitas. Sehingga, mayoritaspenduduk penduduk pribumi yang sebagian besar Muslim tidak mendapat kesempatanpendidikan dari Belanda. Bahkan jika mereka mempunyai akses, kebanyakan muslimmenganggab haram sekolah Belanda karena karakter sekulernya. Jadi, karenapembatasan pemerintah dan keyakinan kaum muslim, institusi pendidikan yangtersedia bagi mayoritas penduduk pribumi hanyalah pesantren. Belajar dipesantren tidak hanya terjangkau, tetapi juga bernilai ibadah. Jumlah pesantrenyang cukup banyak dapat menampung masyarakat, khususnya karena pesantrenseringkali terletak di dalam atau di dekat desa. Ada banyak pesantren. Secara umum dapatdikatakan, bahwa beberapa pesantren memfokuskan pada pengajaran tingkat tinggi,sementara yang lain hanya menyediakan pengajaran tingkat dasar. Ketenaran suatupesantren tergantung pada reputasi pemimpinnya/pengasuhnya, kemampuannyamenarik murid dan ketinggian ilmu agamanya. Pada tingkat dasar, para santridiberi pelajaran cara membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar keimanan. Mereka yangpintar dapat melanjutkan ke pesantren yang menyediakan ilmu pengetahuan tingkatmenengah, sementara beberapa orang yang lain melanjutkan studi lanjutan keMekkah dan Kairo.
Pendidikan Abdoel Madjid samadengan yang dialami oleh kebanyakan santri seusianya. Sampai berumur 17 tahun,pendidikan awal beliau diperoleh langsung dengan bimbingan ayahnya sendiri.Disamping itu beliau juga sekolah di HIS (Holland Inlandsche Scholen). Padausia 17 tahun ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan keluarganya untukmenuntut ilmu dan memperdalam ilmu agama pada beberapa pondok pesantren diJawa. Sebagaimana layaknya para kiai terdahulu, yang hampir dapat dipastikanpernah merantau dalam pencarian ilmu agama, yaitu melakukan perpindahan daripondok pesantren yang satu ke pesantren yang lainnya. Demikian halnya denganAbdoel Madjid, hanya kepindahan beliau dari pondok pesantren yang satu kepesantren yang lainnya tidak sampai tahunan, namun tidak lebih dari satu bulan.
Pesantren yang pertama kalibeliau singgahi adalah Pesantren Jamsaren di Solo yang diasuh oleh K.H. AbuAmar. Di pondok pesantren ini beliau tidak bertahan lama, hanya enam bulansedangkan menurut K.H. Achmad Baidhowi hanya satu minggu , kemudian beliausudah pulang. Kepulangannya disuruh oleh kiainya dan disuruh belajar kepada ayahnyasendiri.
Tenggat beberapa hari setelahpulang dari Pesantren Jamsaren Solo, beliau minta izin kepada ayahnya untukmondok di sebuah pesantren di Nganjuk, yaitu Pesantren Mojosari yang diasuholeh K.H. Zainuddin, seorang kiai yang terkenal sebagai waliyullah. Setelahsampai di Pesantren Mojosari beliau showan kepada kiai minta izin agardiperkenankan belajar disini. Setelah diterima sebagai santri beliau punmengikuti kegiatan belajar mengajar layaknya santri lain. Seperti kejadian diPesantren Jamsaren, baru tujuh hari beliau nyantri ternyata sang kiai menyuruhpulang dengan mengatakan “Sampun Gus, panjenengan kondor mawon. llmu wontengnriki sampun telas, sampun mboten wonten ingkang saged kawulo paringaken.Panjenengan ngaos kemawon wonten romo penjenengan, Kiai Ma’roef, beliaulangkung ‘alim dibandingaken kawulo”. (Sudah Gus, engkau pulang saja. Ilmu yangada di sini sudah habis, sudah tidak ada lagi yang dapat saya berikan. Engkaubelajar saja kepada ayahmu, Kiai Ma’roef, beliau lebih pandai dibandingkansaya). Mendengar perintah sang kiai, Gus Madjid terkejut bukan kepalang. Betapatidak terkejut, keinginan untuk belajar di pesantren sudah bulat, tetapi justrubaru satu minggu diperintahkan pulang oleh sang kiai. Tak tahu bagaimanaperasaan beliau kala itu, namun karena tidak mau mengecewakan kiainya, akhirnyabeliau terpaksa meninggalkan Pesantren Mojosari. Tak tahu persis sebabnya,mengapa para pengasuh pondok yang disinggahi Gus Madjid ---K.H. Abu Umar danK.H. Zainuddin --- yang terkenal dengan waliyullah itu tidak berkenan“menerima” beliau sebagai santri. Akan tetapi, konon para kiai tersebut telahmengetahui, bahwa Gus Madjid adalah orang yang dimuliakan oleh Allah SWT.Sehingga wajar para kiai itu merasa tidak pantas mengasuh beliau yang derajatkemuliaannya di sisi Allah lebih tinggi.
Setelah berkali-kali mondok danmasanya tidak pernah lama, akhirnya ayahnya, K.H. Mohammad Ma’roef, membimbingsecara langsung putranya untuk mengaji Al-Qur’an dan mendalami ilmu agamaIslam. Ayahnya tidak lagi mengizinkan kepada Abdoel Madjid untuk belajar diluar Kedunglo. Hanya sekali waktu pada bulan Ramadhan beliau diperbolehkanmengikuti pondok/asrama Ramadhan , di antaranya di Pondok Pesantren Tebuireng,Jombang, yang diasuh oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan di Pondok Pesantren Lirboyoyang diasuh oleh K.H. Abdul Manaf.


D. Keluarga

Selama hidupnya Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA menikah dua kali. Semua istri beliau adalah anak kiai, istripertamanya, Nyai Hj. Shofiyah adalah putri Kiai Hamzah, Tawangsari Tulungagung,istri keduanya Nyai Suwati, seorang janda berasal dari Panjen, Malang, yangsudah memiliki empat orang anak, yaitu; Muhammad Mansur, Muhammad Arifin,Muhammad Shoim dan Muhammad Shodiq.
Dari hasil pernikahannya denganNyai Hj. Shofiyah, beliau dikaruniai empat belas putra dan putri yaitu;
1. Unsiyati, meninggal pada usiaempat bulan.
2. Nurul Ismah
3. Khurriyatul Abadiyah,meninggal pada usia limabelas bulan
4. Tatik Farichah
5. Abdul Latif
6. Abdul Hamid
7. Fauziyah, meninggal pada usiatujuh bulan
8. Jauharotul Maknunah
9. Istiqomah
10. Muhammad Hasyim Asy’ari,meninggal pada usia tujuh belas bulan
11. Tutik Indiyah
12. Ahmad Syafi’ Wahidi Sunaryo
13. Husnatun Nihayah
14. Zaidatul Inayah

Sedangkan dari hasil pernikahanMbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA dengan Nyai Suwati, beliau dikaruniai duaputra, yaitu Gus Irfan dan Gus Nafa’. Namun pada usia 11 tahun Gus Irfanmeninggal dunia demikian juga dengan Gus Nafa’ juga meninggal dunia pada usiasatu tahun. Nyai Suwati juga meninggal dunia sewaktu Mbah K.H. Abdoel MajidMa’roef RA masih hidup.

B. KEPRIBADIAN DANKETELADANAN


“Beliau memang lebih senang diam.Jika berkata sekalipun pendek tapi mengandung makna yang sangat luas dandalam”.

Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roefRA merupakan figur ulama yang memiliki kepribadian dan keteladanan agung.Keagungan dan rasa hormat yang ditunjukkan oleh setiap orang yang mengenalnya,tidak dapat dilepaskan dari kepribadian dan keteladanannya.
Dari kepribadian danketeladanannya yang agung memancar kharisma, yaitu semacam “pengaruh spiritual/ nadhrah” yang membuat setiap orang menaruh rasa hormat dan segan terhadapbeliau. Pengaruh spiritual itulah yang membuat para tamu yang berkunjung kerumahnya ataupun orang yang berada satu majelis dalam pengajiannya, merasabetah berada di dekatnya.
Padahal, suasana yang menonjolketika itu adalah keheningan. Beliau tak banyak bicara. Hanya sesekali sajabeliau mengatakan sesuatu, itupun hanya seperlunya saja. Ketika menyampaikanfatwa dan amanatnya, nadanya ringan-ringan saja, tetapi di balik itu tersimpanribuan hikmah yang luas dan mendalam. Mereka merasakan keteduhan dalamkeheningan bersamanya. Keteduhan dalam keheningan itu adalah laksana embun pagiyang menetes ke dalam hati. Itulah pesona spiritual yang menjadi daya tariksehingga banyak orang ingin menemuinya, meski hanya sekedar memandang wajahatau mencium tangannya.


A. Hidup Sederhana

Pola kehidupan sehari-hari yangdijalani oleh Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA diwarnai dengan pola hidupsederhana. Dari sisi manapun orang melihat aspek kehidupannya, yang nampakadalah kesederhanaan. Kesederhanaan dapat dilihat mulai dari pakaian yangbeliau kenakan, makanan dan minuman sebagai menu sehari-harinya, tempat tinggaldan perabot rumah tangga yang dimilikinya, perkataan dan tutur kata yang keluardari lisannya ataupun lingkungan dan pergaulan orang-orang yang dekatdengannya.
Pakaian sehari-hari yang beliaukenakan adalah pakaian yang pada umumnya dikenakan orang kampung. Dalamberpakaian, sama sekali tak mengesankan bahwa beliau adalah seorang ulamabesar. Dengan pakaian yang sederhana itulah, beliau berbaur dan berinteraksidengan orang-orang kampung. Sehingga dari segi pakaian, sama sekali tak nampakperbedaan antara ulama dan orang kampung.
Pakaian yang sering beliaukenakan adalah baju seperti baju piyama atau baju kemeja berwarna putih yangdipadu dengan kain sarung hitam dan kopiah hitam. Disamping itu beliau jugasenang mengenakan pakaian-pakaian yang berwarna kalem atau tidak mencolok.Apalah artinya warna pakaian. Untuk ukuran orang yang asal memakai warnapakaian tanpa ada pemaknaan di balik warna pakaiannya, ungkapan tersebutrelevan sekali. Namun ketika warna itu berkaitan dengan seorang figur panutan,tentulah ada maknanya. Disamping itu pakaian yang beliau kenakan selalu bersihdan rapi, tidak tampak sedikit pun noda kotoran yang melekat di bajunya.
Bagaimana memberi makna pakaianwarna putih ataupun warna gelap yang sering beliau kenakan? Bukankah warnaputih melambangkan kesucian dan warna gelap melambangkan duka cita? Apakah dibalik warna pakaiannya itu terkandung pesan bahwa sesungguhnya beliau lebihmengutamakan kesucian hati daripada yang tampak secara lahiriah dari warnapakaian yang dikenakan? Ataukah ada maksud lain, misalnya, warna gelap sarungbeliau mencerminkan kedukaan yang mendalam kepada dunia fana ini ? Atau adaalasan lain? Allahu a’lam.
Selain dari pakaian,kesederhanaan juga terlihat dari lingkungan di sekitar rumahnya. Bahkan, rumahyang beliau tempati beserta keluarganya adalah bantuan dari PSW Pusat saat ituyang membangunkan rumah bagi beliau. Bangunan rumah beliau yang terlihat dariluar, sangat jauh dari kesan kemegahan dan kemewahan dunia. Kesan yang mendalamsangat menonjol dari bangunan rumahnya adalah kesederhanaan. Demikian puladengan properti yang ada dalam rumahnya. Ruang tamunya tidak terpajangfurniture yang istmewa. Kalaupun ada meja kursi yang agak baik, itupun hasildari pemberian salah satu pengamal Wahidiyah.
Kesederhanaannya juga tercermindari menu makanan sehari-harinya yaitu nasi putih, krupuk dan kecap. Beliausudah merasa sangat nikmat sekali makan hanya dengan menu makanan seperti itu.Tak jarang beliau dan putra-putrinya yang masih kecil-kecil hanya makan sayurkangkung yang beliau petik dari sekitar rumah yang memang dikelilingirawa-rawa. Makanan yang paling disukai adalah nasi pecel, beliau juga senangpada krupuk melinjo.
Kesederhanaan juga tercermin daritutur kata yang beliau ucapkan. Ketika berbicara, sangat ringkas, padat danseperlunya saja. Meski demikian, apabila disimak dengan cermat maksud dan maknadi balik setiap perkataannya, untaian kata-katanya mengandung makna yang dalamlaksana untaian mutiara yang tersusun. Itu pun beliau ucapkan dengan suara yangpelan. Begitu pelan suaranya sehingga orang-orang yang mendengarkan harusmemasang telinga baik-baik supaya dapat menangkap dengan jelas maksudperkataannya. Saat beliau berbicara, orang-orang segan untuk menyela. Merekadengan sabar menunggu satu per satu perkataan yang keluar dari lisannya.
Tidaklah mengherankan bila dalamsuatu forum pertemuan kadang beliau lebih memilih diam meski banyak orang yangmenunggu nasehatnya. Bila sudah begitu, orang-orang yang hadir dalam forumtersebut tak berani untuk membuka pembicaraan.
Pola hidup sederhana yangdijalani Mbah K.H. Abdoel Majid Ma’roef RA merupakan pengamalan darinilai-nilai luhur ajaran Islam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW yangsangat menekankan pola hidup sederhana kepada umatnya. Rasulullah SAW adalahseorang pemimpin umat manusia sedunia, penghulu para rasul dan kekasih AllahSWT yang menganjurkan hidup sederhana.
Seorang sahabat ketika berkunjungke rumah Rasulullah SAW tak kuasa menahan air mata ketika menyaksikan sendirikesederhanaan kehidupan sehari-harinya. Pada saat sahabat datang, Rasulullahsedang berbaring di atas tikar yang terbuat dari daun kurma. Ketika beliaubangkit dari berbaring dengan bertelanjang dada untuk menyambut kedatangansahabatnya itu, bekas-bekas tikar tergambar di tubuhnya.
Bagaiamana sahabatnya itu tidakmenangis menyaksikan hal itu. Sebagai seorang pemimpin umat, Rasulullahsebenarnya berhak untuk tidur di atas kasur atau permadani yang empuk danmewah, namun Rasulullah memberikan teladan hidup sederhana kepada umatnya.


B. Tak Berkenan DiperlakukanIstimewa

Selaras dengan pola hidupsederhana, Mbah K.H. Abdoel Majid Ma’roef RA tidak berkenan mendapat perlakuanistimewa. Beliau lebih suka dengan perlakuan yang sewajarnya . Perlakuan yangsewajarnya itu adalah lebih sejalan dengan pola hidup sederhana yang beliaujalani.
Suatu ketika Mbah K.H. AbdoelMajid Ma’roef RA diundang untuk menghadiri suatu acara di Jombang di rumahmertua H. Mohammad Syifa’. Tuan rumah dengan sengaja menyediakan tempat khususbagi ulama yang diundang. Untuk itu tuan rumah menyediakan tempat tidur(istirahat) khusus lengkap dengan kasurnya. Sedangkan para penderek (pengantar)beliau tidur di lantai. Di tengah malam beliau memeriksa para pendereknya,setelah mengetahui kalau para pemdereknya tidur di lantai, akhirnya beliau jugatidur di lantai dalam kamar tanpa alas kasur.


C. Zuhud

Pola hidup sederhana adalahzuhud. Zuhud adalah sebuah sikap menjaga jarak dengan hal-hal duniawi. Seorangyang zuhud (zahid) menjaga hati, pikiran dan perasaannya dari terpengaruh olehbenda-benda dunia. Pikiran, hati dan perasaannya diisi dengan kesibukan untukmendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Apa yang terlintas dalampikirannya adalah tafakur. Gerak hatinya adalah dzikir. Perasaannya dipenuhirasa takut (khauf) dan harap (raja’) terhadap Allah.
Demikian pula dengan sikap zuhudMbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA. Pikiran dan hatinya terjaga dari pengaruhdan bersandar kepada benda-benda dunia. Apabila memiliki harta bendakeberadaannya sama sekali tidak disimpan di dalam hati dan pikirannya.Bagaimana beliau menjaga kesucian pikiran dan hatinya dari pengaruh benda-bendadunia terbukti dari kesederhanaan hidup beliau. Padahal seandainya beliau maubergelimang harta kekayaan tidak sulit bagi beliau untuk memenuhinya.
Hal ini terbukti ketika Drs. K.H.Ghazali, perintis berdirinya IAIN Sunan Ampel Tulung Agung (sekarang STAIN)mengadukan usaha yang digelutinya mengalamai pailit dan terncam gulung tikar.Mendengar pengaduan tamunya, serta merta Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RAmerogoh saku jasnya. Ketika beliau mengeluarkan tangannya seketika itu jugasegenggam berlian berada di telapak tangannya. “Silakan, kalau usaha Anda inginkembali”. Kata Mbah K.H. Abdoel Majdid Ma’roef RA sambil mengulurkan tangannyakepada Pak Ghazali.
Kiai asal Sunda yang fasihberbahasa Jawa ini hanya terpana, tertegun dengan kejadian mencengangkan yangbaru saja berlangsung di hadapannya. “Mboten, mboten (tidak, tidak)”. Jawabnyatidak berani mengambil berlian yang diberikan Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RAkepadanya.
Sikap zuhud juga terlihat darisikap beliau yang tidak silau dengan kemewahan dunia. Sikap ini tergambardengan jelas dari setiap kali pelaksanaan Mujahadah Kubro. Tiap pagi haridiadakan acara peshowanan bagi pengamal Wahidiyah. Pada saat sungkeman, tidaksedikit para pengamal Wahidiyah yang memberi uang kepada beliau. Sakingbanyaknya orang yang memberi uang kepada beliau, sehingga di samping beliaududuk disediakan ember atau kain untuk tempat uang. Namun setelah acarapeshowanan selesai, beliau langsung meninggalkan tempat duduknya tanpamenghiraukan uang yang berada di ember yang jumlahnya begitu besar.
Selain tidak bersandar pada uang,beliau juga tidak bersandar pada benda-benda dunia seperti mobil atau kendaraanlainnya. Bahkan menahan keinginannya untuk memiliki fasilitas dunia itu.Apabila hendak bepergian untuk suatu keperluan, beliau lebih suka dan lebihsering naik sepeda ontel (kayuh) atau naik kendaraan umum. Ketika wafatnya MbahJalil, Romo K.H. Abdoel Majdid Ma’roef RA bepergian sendirian untuk ta’yizahdengan naik sepeda ontel miliknya. Padahal jarak rumah Mbah Jalil denganKedunglo lebih kurang 10 km. Bahkan ketika KH. Zainal Fanani menyampaikan hasilmusyawarah dari tokoh-tokoh Wahidiyah yang akan membeli sebuah mobil khusus untukkepergian beliau ke daerah-daerah menghadiri acara-acara Wahidiyah lebih lancardan mudah. Dalam kesempatan itu Mbah K.H. Abdoel Majdid Ma’roef RA menjawab,“Perjuangan Wahidiyah kanmasih banyak yang perlu dibiayai, kalau saya hadir ke daerah-daerah cukup naikkendaraan umum saja”.
Begitulah sikap beliau terhadapperjuangan Wahidiyah segala yang beliau miliki dikurbankan, tidak hanya tenagadan pikiran, harta benda yang dimilikinya juga dikurbankan, sehingga kehidupankeluarga beliau jauh dari berkecukupan. Lantas, bagaimana sikap kita terhadapperjuangan Wahidiyah ?
Begitulah sikap zuhud Mbah K.H.Abdoel Majdid Ma’roef RA. Beliau sedikit pun tidak terpengaruh dengan kemewahandan kemegahan dunia. Kalaupun beliau mempunyai kelebihan harta, harta kekayaannyabanyak yang dikurbanlan untuk perjuangan Wahidiyah. Berkaitan dengan masalahini beliau pernah dawuh, “Kalau takut melarat (miskin) karena perjuangan, apadunia (kekayaan) ini akan dibawa mati ?
Harta benda itu hanyalah titipan.Pelajaran yang dapat diambil dari kalimat tersebut adalah bagaimana seseorangseharusnya bersikap terhadap harta benda atau kekayaan yang dimilikinya. Hartabenda atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang tidak lebih dari sekedartitipan yang suatu ketika akan diambil kembali oleh pemiliknya yang sebenarnya(hakiki).
Titipan merupakan kata benda darikata kerja titip yang berarti “menitipkan benda atau sesuatu yang dititipkankepada orang lain”. Dengan demikian yang dimaksud kalimat “harta benda ituhanyalah titipan” kurang lebih berarti bahwa “harta benda yang dimiliki olehseseorang itu adalah seperti titipan yang diberikan kepada seseorang untuksementara waktu”.
Harta benda yang dititipkankepada seseorang itu berarti untuk sementara waktu “dimiliki” oleh seseorangyang dititipi. Sejatinya harta benda tersebut bukan milik orang yang dititipimelainkan milik orang yang menitipkannya. Dikatakan sementara karena hartabenda yang dimiliki oleh seseorang sejatinya hanya merupakan titipan daripemilik yang sesungguhnya yaitu Allah SWT Yang Maha Kaya. Pesan tersebutmengajarkan kearifan bagi siapa saja tentang bagaimana seharusnya bersikapterhadap harta benda. Setiap titipan sejatinya bukan milik dari orang yangdititipi melainkan milik dari yang menitipkannya. Dengan begitu maka ia sadarbahwa harta benda itu bukanlah miliknya dalam arti yang sebenarnya.
Konsekuensinya, seseorang taksemestinya bersandar pada harta benda yang merupakan barang titipan. Sandaransemestinya ditujukan kepada Allah Yang Maha Kaya yang menitipkan harta bendakepada hamba-hambaNya.
Apabila kesadaran seperti itudimiliki oleh seseorang yang memiliki harta benda, ia tidak akan menyombongkandiri dan pamer kekayaan yang dimilikinya. Karena ia menyadari bahwa hartabendanya itu sesungguhnya merupakan titipan dari Allah yang dititipkankepadanya. Dengan kesadaran seperti itu, maka harta kekayaan yang dimilikinyabila menyangkut dirinya sendiri akan digunakan seperlunya. Namun bila untukkepentingan di jalan Allah (fii sabilllah), ia tak akan menghitung berapapunharta yang dikeluarkannya. Karena ia tahu, harta titipan itu telah diberikankepada Sang Pemiliknya.


D. Pemersatu Ummat

Dalam melaksanakan perjuanganWahidiyah Mbah K.H. Abdoel Majdid Ma’roef RA tidak membeda-bedakan orang. Siapapun orangnya, akan beliau siari atau ajak untuk mengamalkan Sholawat Wahidiyah.Selain itu, beliau sama sekali tidak pernah mempermasalahkan asal kelompokseseorang. Dari mana pun kelompoknya tidak menjadi soal. Hal ini sejalan denganprinsip dalam penyiaran Sholawat Wahidiyah yang berprinsip tidak pandang bulu.
Perhatiannya dalam membimbingumat agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan juga beliau tunjukkanketika mendapat pertanyaan dari seorang pengamal Wahidiyah ketika showan kepadabeliau. Dalam kesempatan itu si pengamal Wahidiyah berujar “Maaf Romo, sekarangsaya pindah rumah. Alhamdulillah rumah baru saya dekat dengan masjid. Sehinggasaya dapat ikut sholat jama’ah terus setiap waktu. Akan tetapi ketika sholatShubuh, saya tidak ikut jama’ah sholat. Mengapa ? Tanya Mbah K.H. Abdoel MajdidMa’roef RA. karena ketika sholat Shubuh imamnya tidak memakai do’a qunut, jawabsi pengamal Wahidiyah. Sambil tersenyum tipis, beliau dawuh, “Anda ikut jama’ahsaja, ikut imam yang tidak pakai do’a qunut tidak apa-apa, semua itu adadasarnya, yang penting hatinya (sholatnya) yang khusu’.”
Jawaban Mbah K.H. Abdoel MajdidMa’roef RA yang begitu sejuk kepada tamunya mencerminkan sikap beliau yangsangat menghormati pendapat orang lain. Beliau tidak menjustifikasi terhadappendapat yang menyatakan bahwa sholat Shubuh itu harus dengan do’a qunut,tetapi mendirikan sholat Shubuh tanpa menggunakan do’a qunut juga dibenarkanoleh syari’at, karena pendapat itu mempunyai dasar hukumnya.
Masalah do’a qunut adalah masalahkhilafiyah (perbedaan pendapat ulama’). Perbedaan pendapat seharusnya menjadirahmat, sebagaimana pernyataan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya,ikhtilaafu ummatii rahmatun (perbedaan pendapat di antara umatku adalahrahmat). Perbedaan pendapat akan menjadi rahmat manakala kita dapat menerimaperbedaan pendapat itu dengan arif dan bijak serta mau menghargai danmenghormati pendapat orang lain. Namun, sering kali di tengah-tengah kehidupanmasyarakat kita sering kita jumpai, hanya karena perbedaan pendapat masalahkecil, memicu timbulnya perpecahan umat. Hanya karena do’a qunut persatuan dankesatuan umat Islam jadi ternacam.
Dengan keagungan dan kearifanbeliau Mbah K.H. Abdoel Majdid Ma’roef RA, dalam rangka membina ukhuwahIslamiyah di kalanagan umat, dalam Sholawat Wahidiyah terdapat do’a yangmemohon terjalinnya persatuan dan kesatuan umat. Sebagaimana do’a yang selalukita baca ketika bermujahadah :

قَرِّبْ وَأَ لِّفْبَيْنَنَايَارَبَّنَا

“Pereratlah persaudaraan danpersatuan di antara kami Yaa Allah”


E. Rendah Hati dan MemuliakanOrang Lain

Meski Mbah K.H. Abdoel MajdidMa’roef RA seorang kiai yang masyhur dan pemimpin umat yang besar, namun sikapdan tutur katanya sangat rendah dan lemah lembut. Ketika bicara dengan paratamunya, meskipun dengan orang yang masih muda, beliau selalu menggunakanbahasa kromo inggil bahkan dengan istrinya ---Nyai Hj. Shofiyah--- sekalipunbeliau selalu menggunakan kromo inggil ketika bicara. Itulah sikap tawadhu’yang selalu beliau lakukan tanpa pandang bulu. Tidak pandang siapa lawanbicaranya, apakah seorang kiai besar atau pun orang biasa.
Sikap memuliakan orang lain,terlihat ketika beliau menjamu para tamunya. Suatu hari Mbah Nyai Hj. Shofiyahmendapat kiriman daging dari ibu Ayub, Kediri.Daging tersebut lantas disate. Setelah satenya siap untuk dimakan bersama-samadengan keluarganya, tiba-tiba datang beberapa orang yang akan showan kepadabeliau. Setelah tamunya dipersilakan duduk dan bicara sejenak, Romo K.H. AbdoelMajdid Ma’roef RA pergi ke belakang untuk menghidangkan nasi dengan lauk sateyang baru saja dimasak oleh Mbah Nyai.
Di ruang makan, Gus Syafi’ sudahsiap untuk makan dengan lauk sate yang baru saja matang. Tiba-tiba ayahnyaberujar, “Sudah Fik, sate ini dibuat lauk tamu dulu”. Ya, jawab Gus Syafi’.Akhirnya Gus Syafi’ tidak jadi makan. Ah…, makan nanti saja setelah selesainyapara tamu. Nanti biar bisa makan dengan lauk sate. Gumam Gus Syafi’ dalamhatinya. Namun, ternyata sate yang dihidangkan untuk para tamunya habis tanpasisa. Akhirnya Gus Syafi’ tidak dapat menikmati sate yang diinginkannya. Denganpenuh kasih sayang, ayahnya memberi nasihat, “Sudah Fik, makan dengan sambaltahu mentah saja ya, karena satenya habis,”. Ya, jawab Gus Syafi’.
Itulah sikap Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA dalam memuliakan orang lain (tamu). Meski keluarga beliausangat jarang makan sate, tetapi ketika ada tamu, sate yang akan beliau makandihidangkan untuk para tamunya. Inilah contoh pengamalan Ajaran Wahidiyah,taqdimul aham fal aham yang beliau ajarkan bagi para pengamal Wahidiyah.


F. Kasih Sayang

Kasih sayang dan perhatian MbahK.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA kepada pengamal Wahidiyah begitu sangat besar.Saking besarnya kasih sayang beliau kepada pengamal Wahidiyah sampai-sampaiketika Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA melaksanakan ibadah haji, beliaumendaftarkan secara langsung para pengamal Wahidiyah sebagai penderekRasulullah SAW. Berikut dawuh beliau sepulang dari ibadah haji. “Alhamdulillah,saya diberi selamat berkat do’a anda semua, dan saya menyampaikan salam dari RasulullahSAW. Dan para pengamal Wahidiyah sudah saya daftarkan kepada Rasulullah SAWsebagai pejuang, dan salamnya para pengamal sudah saya sampaikan kepada KanjengNabi SAW.
Kasih sayang selain beliauberikan kepada sesama manusia, juga beliau berikan kepada makhluk Allah yanglain. Hal ini dibuktikan dengan sikap beliau yang sangat perhatian terhadapikan lele piaraannya. Setiap pagi dan sore beliau selalu memberi makan padaikan-ikan piaraannya yang ada di kolam depan rumah yang lama. Beliau dengan nyatamengamalkan pesan Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam kitab TanbihulGhafilin bahwa “Orang-orang yang mengasihani akan dikasihani oleh Yang MahaPemurah. Kasihanilah makhluk yang berada di bumi, niscaya kamu akan dikasihanioleh yang berada di langit”.


G. Shabar

Sifat kesabaran Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA sulit dicari bandingannya. Saking shabarnya, hingga sedikitsekali yang mengetahui beliau sedang marah. Bahkan keluarga dekat beliausekalipun tidak mengetahuinya. Sifat shabar tersebut sempat menggelisahkanputra-putri beliau. Bagaimana tidak, putra-putri beliau sering merasa merasaberbuat salah, jangankan dimarahi, ditegur saja tidak pernah.
Akhirnya salah seorang putramengadu kepada ibunya. “Ibu, kami para putra nakal-nakal dan sering berbuatsalah, tetapi mengapa bapak tidak pernah menegur, apalagi memarahi kami ?Dengan kasih sayang ibunya menjelaskan, “Kalau engkau ingin mengetahui bapakmusedang marah lalu menegur dan menasihatimu, perhatikanlah saat beliaumenyampaikan fatwa dan amanat. ”Sejak saat itulah para putra-putri beliaumengetahui, bahwa nasihat dan teguran yang disampaikan oleh ayahnya dalam fatwaamanatnya di muka umum juga ditunjukkan kepada mereka.
Sikap kesabaran Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA juga terlihat pada awal-awal Perjuangan Wahidiyah.Tantangan-tantangan muncul dari berbagai kalangan dan daerah. Hampir di setiapdaerah yang ada pengamal Wahidiyah di penjuru tanah air ini, muncul kasustentang Wahidiyah. Seringkali tokoh Wahidiyah daerah harus berhadapan denganaparat setempat disamping juga dimusuhi oleh kiai dan tokoh masyarakat yangbelum mengenal Wahidiyah. Adajuga beberapa tokoh Wahidiyah daerah yang dipanggil ke kantor polisi untukdimintai keterangannya.
Menghadapi laporan beberapa kasuspengontrasan tersebut Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA mampu menjadikansuasana panas menjadi dingin, lawan menjadi kawan, hati yang suudhon berubahmenjadi khusnudhon dengan dawuhnya, “Ngaten nggih, tiyang ingkang ngontrasidateng Wahidiyah puniko ageng sanget bantuane terhadap Perjuangan Wahidiyah.Sebab, dikontrasi mujahadahe sampeyan mundak mempeng. Perjuangan tambah giat,langkung-langkung menawi tiyang ingkang ngontrasi meniko tiyang ingkang agengpengaruhe, lajeng cepet dipun tangani masyarakat. Dados musuh meniko temansetia dalam perjuangan. Sebab menawi mboten wonten musuh, namine sanesperjuangan.” (Begini ya, orang yang kontras terhadap Perjuangan Wahidiyah itubesar sekali bantuannya terhadap Perjuangan Wahidiyah. Sebab dengan dikontrasi,Anda lebih rajin bermujahadah. Perjuangan semakin meningkat, lebih-lebih orangyang mengontrasi tersebut adalah orang yang besar pengaruhnya, sehingga cepatmendapat tanggapan masyarakat. Jadi musuh itu sesungguhnya teman setia dalamperjuangan. Sebab kalau tidak ada musuh, namanya bukan perjuangan).


H. Pemaaf

Disamping kesabaran beliau yangluar biasa, Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA juga seorang pemaaf yang ulung.Sikap seperti ini terlihat pada suatu hari Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RApergi ke pekarangan di belakang rumahnya, tiba-tiba beliau melihat pencurisedang memanjat pohon kelapa. Mengetahui kejadian itu Mbah K.H. Abdoel MadjidMa’roef RA langsung balik pulang dan pura-pura tidak tahu kalau ada pencuri.
Sifat maaf beliau tidak berhentisampai disitu. Maaf Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA juga beliau berikankepada seorang santri Kedunglo yang menggosop (memakai) sandal bakiyaknya.Ceritanya demikian, setelah ngimami sholat Maghrib, sandal bakiyak beliauhilang, sehingga beliau pulang tanpa mengenakan sandal. Mengetahui kejadianitu, Shihab ---ketua Pondok Kedunglo saat itu--- mencarinya kesana kemari danmenanyakan kepada para santri. Setelah sandal bakiyak ditemukan, santri yangmenggosob itu disuruh untuk mengembalikan dan supaya mohon maaf kepada beliau.Setelah sandal bakiyak dihaturkan, beliau sama sekali tidak memarahi ataupunmenegur santri yang menggosob bakiyaknya.
Sikap pemaaf Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA tidak hanya untuk orang lain, tetapi juga diberikan untukputra-putrinya. Ketika putri beliau, Ning Nurul Ismah, dimarahi habis-habisanoleh ibunya karena baru tiga hari mondok di Mayan, Keras, Kediri pulang ke Kedunglo karena tidakkrasan. Namun, ayahnya sama sekali tidak memarahinya seraya berkata, “Wis, nggak usah nangis,kowe mondok nggak krasan nggak opo-opo. Ndisik bapakmu mondok yo nggak krasankok, dadine podo karo bapak.” (Sudah, ndak usah nangis, kamu mondok tidakkrasan tidak apa-apa. Dulu ayahmu mondok juga tidak krasan kok, jadinya samadengan ayah).
Kisah mengenai sifat maaf MbahK.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA juga diceritakan oleh putra beliau yang lain,Agus H. Ahmad Syafi’ Wahidi Sunaryo. Pada tahun 1996 ---tujuh tahun setelahwafatnya Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef RA--- Gus Syafi’ kehilangan kucing danayam kesayangannya. Tidak itu saja, uang untuk ongkos naik haji juga lenyapdigondol maling. Gus Syafi’ gelisah, karena ‘azam naik haji yang sudah begitulama dirindukan dan segera akan terealisasi lenyap begitu saja.
Di tengah kegelisannya, GusSyafi’ bermujahadah. Dalam mujahadahnya Gus Syafi’ dirawuhi oleh Mbah K.H.Abdoel Madjid Ma’roef RA, lantas beliau dawuh, “Sudah Fi’, masalah ini yangmembuat semuanya Allah. Hal ini untuk menguji tawakalmu kepada Allah, dan kamujangan sampai ingin mengetahui siapa yang mengambil uangmu, dan yang mengambiluangmu maafkanlah.”
Semasa hidupnya, Mbah K.H. AbdoelMadjid Ma’roef RA sering kehilangan rokok, namun beliau malah berujar, “Siapayang mengambil, saya maafkan. Semoga yang mengambil mendengarnya”.
Begitulah sifat pemaaf beliau.Maaf beliau akan selalu terbuka bagi siapa pun, tidak hanya bagikawan-kawannya, namun juga bagi orang-orang yang memusuhi dalam PerjuanganWahidiyah.


Lingkungan Pesantren

Setelah rencana mondok dibeberapa pondok tidak terealisasi ---karena baru beberapa hari diperintah olehpengasuhnya untuk pulang kembali--- akhirnya Gus Majid belajar ilmu kepadaayahnya sendiri, K.H. Mohammad Ma’roef di pesantren yang didirikan oleh ayahnyayaitu di Pondok Kedunglo. Pesantren Kedunglo didirikan sekitar tahun 1902 olehK.H. Mohammad Ma’roef.
Lokasi Pesantren Kedunglo sangatstrategis, terletak di tepi barat sungai Brantas Desa Bandar Lor, KecamatanMojoroto, Kota Kediri, sekitar satu kilometer barat kantor Pemerintah KotaKediri, dengan sistem transportasi yang terjangkau oleh kendaraan umum. Sebuahpasar telah tersedia di sebelah utara pondok tersebut, sehingga memudahkan parasantri untuk berbelanja memenuhi kehidupan sehari-hari.
Dari hari ke hari, santri diPesantren Kedunglo semakin bertambah. Tidak pernah Pesantren Kedunglokekurangan murid apalagi kehabisan santri. Boleh jadi, kali (sungai) brantas---di sebelah timur pondok--- sebagai simbol dari santri Kedunglo, karenasungai brantas tersebut tidak pernah kering. Kemajuan Pesantren Kedunglo yangcukup pesat tidak dapat dipisahkan dari kepribadian K.H. Mohammad Ma’roef yangmerupakan ilmuwan ternama. Kepesatan Pesantren Kedunglo ini terus berlanjutpada kepemimpinan putra beliau, K.H. Abdoel Majid Ma’roef.
K.H. Mohammad Ma’roef wafatsembilan tahun sebelum kelahiran Sholawat Wahidiyah, tepatnya pada tahun 1954.Sebagai penerus pengasuh dan kepemimpinan Pesantren Kedunglo dilanjutkan olehputra beliau, K.H. Abdoel Majid Ma’roef dan K. Abdul Malik (adik kandung K.H.Abdoel Majid Ma’roef).
Kemasyhuran dan ketenaranPesantren Kedunglo kian bertambah seiring dengan kelahiran Sholawat Wahidiyahyang ditaklif (disusun) oleh K.H. Abdoel Majid Ma’roef. Pro kontra punbermunculan menanggapi kelahiran Sholawat Wahidiyah. Mulai dari ulama’, umara,dan masyarakat bawah pun tidak ketinggalan untuk mendiskusikan mengenaiSholawat Wahidiyah (lebih lengkapnya akan di bahas pada bagian lain).
Walaupun sistem pengelolaanpesantren ini pada awalnya menganut sistem tradisional, namun sejakkepemimpinannya dilanjutkan oleh K.H. Abdoel Majid Ma’roef manajemen pesantrenmengalami perkembangan, di antaranya pembaharuan dalam bidang pendidikan. Kalausebelum kepemimpinan K.H. Abdul Majid Ma’roef kegiatan pendidikan hanyadifokuskan pada pendidikan kepesantrenan, maka pada saat kepemimpinan K.H.Abdoel Majid Ma’roef jenis pendidikannya dapat diklasifikasikan sebagaiberikut;

1. Pendidikan Sekolah

Pendidikan sekolah yangdiselenggarakan di Pesantren Kedunglo adalah Taman Kanak-kanak (TK), SekolahMenengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) -----saat ini pendidikansekolah di Pesantren Kedunglo sudah ada Sekolah Dasar (SD) dan PergurunTinggi------ Sedangkan kurikulum yang dipergunakan adalah kurikulum Depdiknasyang dipadukan dengan kurikulum pesantren.

2. Pendidikan Kepesantrenan

Pesantren Kedunglo selainmenyelenggarakan pendidikan sekolah, juga menyelenggarakan pendidikankepesantrenan. Kegiatan pendidikan kepesantrenan di pesantren ini adalahMadrasah Diniyah (I’dad) dan Pengajian Kitab Al-Hikam. Materi/pelajaran yang disampaikandi Madrasah Diniyah ini meliputi; fiqh, ushul fiqh, tauhid, nahwu, shorof,aqidah akhlak, bahasa Arab, tajwid, qowaidul fiqh, tarih Islam dan tasawufserta ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Selain kegiatan pendidikankepesantrenan yang berupa Madrasah Diniyah, santri di Pondok Kedunglo jugadiwajibkan mengikuti Pengajian Kitab Al-Hikam yang dilaksanankan tiap Ahadpagi. Pengajian Kitab Al-Hikam ini tidak saja diikuti oleh santri PondokKedunglo, melainkan diikuti pula oleh sebagian Pengamal Wahidiyah. Pengajianini mulai dilaksanakan pada awal tahun 1964 yang pada asalnya dilaksanakansetiap Kamis malam (malam Jum’at) yang diasuh langsung oleh Mbah K.H. AbdoelMajid Ma’roef RA. Namun dalam perjalanannya pelaksanaan pengajian kitab inidiganti setiap Ahad pagi, karena diantara Pengamal Wahidiyah yang mengikutipengajian banyak yang dari luar daerah Kediridisamping banyak pula sebagai pegawai negeri. Sehingga, apabila Pengajian KitabAl-Hikam tetap dilaksanakan setiap Kamis malam sedidkit banyak akan menggangguaktifitas dari para Pengamal Wahidiyah tersebut. Dengan kearifan dankebijaksanaan beliau Mbah K.H. Abdoel Majid Ma’roef RA, akhirnya PengajianKitab Al-Hikam dilaksanakan tiap Ahad pagi.
Pada intinya bahasan dalam KitabAl-Hikam karya Sekh Ibnu ‘Athoillah adalah tentang tasawuf, karena memang KitabAl-Hikam merupakan satu di antara sekian banyak dari kitab tasawuf. Lalumengapa beliau K.H. Abdoel Majid Ma’roef RA memilih Kitab Al-Hikam sebagaikitab dalam pengajiannya, kok tidak kitab-kitab lain yang dipakainya ? Untukmenjawab pertanyaan ini, seharusnya mendapat jawaban langsung dari beliau MbahK.H. Abdoel Majid Ma’roef RA, namun sayang beliau sudah wafat. Akan tetapisebagai bahan analisis setidaknya kita dapat mengetahui jawaban dari pertanyaanitu, apabila kita mengetahui betapa besar dan manfaatnya mengerti dan memahamiisi yang tertuang dalam Kitab Al-Hikam, yang akan mengantarkan seseorangmenjadi ma’rifat.
Betapa tidak dikatakan pentingmengaji kitab ini, sampai-sampai Kiai Hamid (almarhum) Pasuruan ---yang dienalsebagai seorang wali)--- menyuruh seseorang untuk mengaji Kitab Al-Hikam.Kisahnya, “ Pada suatu hari Kiai Hamid menyuruh salah seorang tamunya agarngaji Kitab Al-Hikam. Maka si tamu mendatangi beberapa pondok pesantrenkalau-kalau pesantren yang didatanginya mengadakan pengajian Kitab Al-Hikam.Setelah menemukan pondok yang menyelenggarakan pengajian Kitab Al-Hikam, orangtersebut mengikutinya bebrapa kali kemudian pulang dan showan kepada KiaiHamid. Belum sempat orang tersebut berkata sepatah kata pun, Kiai Hamid sudahmendahuluinya “Kamu masih belum mengaji Kitab Al-Hikam”. Orang tersebut lantaspulang dan kembali mencari pesantren yang mengadakan pengajian Kitab Al-Hikam.Setelah sekian lama mencari, orang tersebut akhirnya mendapat informasi bahwadi Pondok Kedunglo Kediri diadakan pengajian Ahad pagi yang membahas KitabAl-Hikam. Orang itu pun segera ke Kedunglo dan mengikuti pengajian Al-Hikambeberapa kali. Setelah dirasa cukup, dia kembali showan kepada Kiai Hamid.Seperti peristiwa sebelumnya belum sempat orang tersebut berkata sepatah katapun, Kiai Hamid buru-buru berkata “Nah, kalau sekarang kamu sudah benar-benarmengaji Al-Hikam”.
Mengaji Al-Hikam itu jugadipengaruhi oleh siapa yang menyampaikan pengajian itu. Kisah di atas merupakanbukti, disamping betapa pentingnya mengaji Kitab Al-Hikam itu, ternyata mengajiAl-Hikam di Kedunglo mempunyai nilai lebih. Di antara kelebihan/keutamaanmengaji Al-Hikam di Kedunglo adalah karena pengasuh/pembimbingnya, Mbah K.H.Abdoel Majid Ma’roef RA, menurut keyakinan Pengamal Wahidiyah beliau adalahseorang sulthonul auliya’/Ghouts hadzazaman. Banyak kisah-kisah yang penuhhikmah yang dialami oleh para peserta pengajian Al-Hikam.
Semasa hidupnya Mbah K.H. AbdoelMajid Ma’roef RA sangat istiqomah dalam melaksanakan pengajian Al-Hikam.Pengajian tidak pernah libur kecuali ada udzur (halangan) yang sangat,pengajian hanya libur/isirahat pada bulan Ramadhan dan bertepatan denganpelaksanaan Mujahadah Kubro. Setiap kali setelah khatam dalam pengajian KitabAl-Hikam akan diulanginya lagi sampai beliau wafat. Setelah beliau wafat,pengajian Al-Hikam diteruskan oleh putra beliau yaitu, K.H. Abdul Latif Majiddan K.H. Abdul Hamid Majid sampai sekarang.

Sumber: Shalawat-Wahidiyah.com

03 November 2011

“ARYA BANJAR GETAS” Tokoh Legendaris Sasak di Lombok

Orang banyak membaca, nama Arya Banjar Getas itu, bersumber dari sejumlah Babad, baik Babad tersebut berada di Gumi Sasak maupun di luar Sasak yang Lombok. Ada pula orang membaca, Arya Banjar Getas bersumber dari buku-buku yang ditulis, terutama sekali oleh penulis luar dan sedikit sekali penulis dalam yang Lombok, lalu membuat interpretasi sendiri-sendiri tentang kesaksian itu.
Namun apapun alasannya, saya ingin mencoba mengutip beberapa sumber sebagai insprirasi, pembelajaran, inventarisasi budaya serta pengetahuan bermakna seputar sejarah daerah Sasak Lombok, dengan Arya Banjar Getasnya. Arya Banjar Getas, seorang tokoh legendaris Gumi Sasak yang Lomboq (baca: lurus). Namun sebelumnya, saya memohon izin, terutama sekali kepada para dane-dane penglingsir lan tokoh adat Sasak magenah ring Lombok panegare. Lebih-lebih kepada Yayasan Pendidikan Pariwisata “Pejanggiq” yang telah mengetahui banyak tentang sejarah daerah Lombok.
Maksud saya adalah, mempublikasikan sejarah dan budaya ini, semoga bermakna bagi generasi muda Sasak khususnya. Karena tidak ada maksud dan tendesi lain, kecuali memberikan pebelajaran dan pencerahan sejarah kepada mereka.
Jika dalam penyampaian cerita ini, terdapat perbedaan, kekeliruan, baik nama tokoh, ulasan, versi serta hal-hal lain yang dinilai cukup komplek, pada kesempatan ini saya mohon maaf, karena inilah keterbatasan pengetahuan saya.
Berkaitan dengan keterbatan-keterbatas di atas, mulai edisi ini saya ingin mencoba, mengetengahkan sejarah daerah Lombok melalui Arya Banjar Getasnya. Dengan harapan, Pembaca dapat memberikan tegur sapa yang sifatnya konstruktif pada saya. Dengan senang hati saya sampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya. Semoga dengan hadirnya tulisan ini, akan bermakna bagi generasi muda Sasak khususnya.
Perlu dikemukakan bahwa, peninggalan sejarah di Pulau Lombok, hanya sebagian kecil yang masih tersisa. Berbagai faktor penyebab musnahnya peninggalan tersebut antara lain, bangunan bersejarah seperti istana dan lain-lain, dihancurkan para penjajah penguasa secara sengaja yakni, Karang Asem dan diteruskan oleh Belanda. Penyebab lainnya adalah, sisa-sisa bangunan yang ada, dilanda bencana alam yang dahsyat terutama sekali meletusnya gunung Rinjani di abad XVII-XIX serta peninggalan-peninggalan ditulis dalam bentuk prasasti yang terbuat dari logam maupun daun lontar, kemudian banyak diangkut oleh penguasa Belanda ke Nederland. Yang dikuasai penjajah Belanda di bumi Nusantara ini, bukan sekedar ekonomi, namun menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ideologi sampai ke hankam.
Selain itu, ketidakfahaman penduduk akan makna sejarah, menyebabkan benda-benda bersejarah seperti senjata (keris, pedang, tombak), takepan (babad), alat-alat rumah tangga (keramik, porselin, perunggu, kuningan) diperjualbelikan secara sembarang, lalu diangkut ke luar daerah dan luar negeri. Begitu pula, yang paling penting bahwa, terdapat unsur kesengajaan dari para penjajah bahwa, sejarah termasuk bukti sejarah daerah Lombok (orang-orang Sasak) memang sengaja dihancurleburkan, karena kalau ingin menghancurkan suatu bangsa atau kaum, hancurkanlah sejarahnya. Ini adalah motto penjajah yang diterapkan di Bumi Lombok. Keganasan dan kegamangan penguasa masa lalu, telah menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah dari semua kerajaan-kerajaan di Lombok seperti Selaparang, Pejanggiq, Purwa, Banjar Getas dll.
Penghancuran istana serta bangunan-bangunan sekitar, selalu dengan pola pembakaran sampai habis oleh penguasa dinasti Karang Asem Bali. Begitu pula kerajaan Karang Asem Bali yang pernah berkuasa di Lombok seperti Mataram, Singasari-Cakranegara, peninggalan bangunan bersejarahnya disapu rata lagi oleh penguasa Belanda.
Untung masih ada beberapa yang tersisa, misalnya masjid Bayan, makam Selaparang. Makam Pejanggiq yang secara kebetulan dibangun rata-rata di atas bukit, sehingga tidak terkena lahar gunung meletus. Selebihnya, sisa peninggalan Singasari-Cakranegara antara lain, pura Miru Cakranegara, taman Mayura dan taman Narmada yang dibangun pada masa kekuasaan dinasti Karang Asem di Lombok yang notabene memang aman dari keganasan bencana alam, terutama letusan gunung Rinjani yang terhebat tahun 1817 (Bedah Takepan-Babad dan Buku Sasak: Mamiq Jahar). Lebih-lebih lagi peninggalan yang tersisa itu dibangun setelah letusan Rinjani tadi.
Penghancuran ini, tidak hanya di zaman kolonial Belanda. Setelah kita merdeka pun banyak mesjid tua dirubah konstruksinya bergaya moderen. Begitu pula taman-taman yang pernah ada. Seperti contoh; taman zaman dinasti Arya Banjar Getas yang terletak disebelah timur istana (sekarang pendopo Kabupaten Lombok Tengah di Praya) yang pernah dipugar Belanda, juga diludeskan menjadi bangunan sekitar tahun 1957-1958.
Sisa-sisa bangunan bersejarah dari penghancuran yang dilakukan raja-raja penguasa, bahkan diperparah dan dikubur dalam tanah dengan meletusnya gunung Rinjani berkali-kali, dimulai tahun 1786 dan tahun 1817. Bukan saja korban harta, tapi beribu-ribu korban nyawa di pulau Lombok sampai ke Sumbawa Barat dan Bali Utara (Buleleng).
Lain lagi dengan benda-benda bersejarah lainnya. Oleh para pedagang, hingga kini benda-benda purbakala tersebut diperjualbelikan, lalu jatuh ke tangan kolektor mancanegara. Sementara, untuk penyelamatannya sulit dilakukan, karena pemerintah memiliki dana dan tenaga yang amat terbatas. Untung saja masih ada Ir.H.Lalu Djelenge, punya kepedulian yang tinggi akan benda-benda bersejarah di daerah Lombok. Membeli dan mengoleksi sejumlah keris Lombok, sehingga tidak habis dibawa ke luar daerah, bahkan luar negeri menjadi konsumsi para kolektor melalui jalur wisata. Inipun setelah beliau melihat betapa banyaknya benda-benda purbakala Sasak yang telah sirna dari bumi Lombok. Karena itu, kepadanya, generari muda Sasak salut dan pantas kita acungkan jempol!.
Sisa-sisa peninggalan sejarah orang Sasak tempo doeloe, memang masih ada dan tersebar di berbagai tempat, terutama menjadi milik keluarga atau pribadi. Melalui serpihan itulah, lalu dilakukan penelusuran dan penelitian, termasuk dalam rangka pempublikasiannya. Namun sayangnya, untuk memperolehnya terkadang terlalu prosedural, bahkan terkadang harus melalui upacara-upacara ritual tertentu, sesuai tradisi yang telah lama diberlakukan.
Permasalahan lain yang mendorong penulisan sejarah ini adalah aktivitas dan kreativitas generasi muda Sasak dewasa ini yang ingin lebih mengenal jati diri mereka; apakah mereka itu dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun LSM yang muncul di era reformasi kini. Sayangnya, ada satu masalah yang dewasa ini sering muncul sebagai suatu wacana sejarah di Indonesia (bukan hanya di pulau Lombok, tapi dimana-mana di nusantara ini), tentang obyektivitas dan kebenaran sejarah.
Yang ingin ditegaskan disini adalah, obyektivitas sejarah tidak sama secara mutlak dengan kebenaran sejarah. Sejarah tidak dapat menciptakan kembali masa lampau. Karenanya, obyektivitas yang diartikan ‘benar’ secara mutlak, tidak akan mungkin akan tercapai.
Penulisan sejarah hanya dapat dilakukan dengan aturan-aturan atau metode-metode sebatas menjamin obyektivitas itu. Malah sering ketika kita membaca tulisan-tulisan yang bernuansa sejarah daerah Lombok (Sasak), bisa jadi pengetahuan kita tidak menjadi bertambah tentang masa lampau itu, karena kebanyakan ditulis dengan penuh keragu-raguan dan pada kondisi obyektivitas yang tidak pasti.
Kita ambil contoh, masuknya kekuasaan Karang Asem-Bali merambah Lombok ada yang menulisnya pada kira-kira tahun 1692, 1693, 1721 dll. Padahal dalam candrasangkala (sandikala) atau kronogram sumber yang ada, jelas-jelas disebutkan tahun 1721 M. Demikian pula ketika versi tentang kalahnya raja Pejanggiq Pemban raja Kesuma oleh Karang Asen dan Arya Banjar Getas (Arya Sudarsana) (1722), sumber di Lombok menyebutkan raja Kesuma meninggalkan Purwa-Sakra ke Taliwang Sumbawa, masih ada yang mengikuti sumber yang salah yang menyatakan raja Kesuma ditawan, lalu dibawa ke Bali dan dibunuh di ujung yang jelas-jelas salah. Mengapa salah? Karena raja Kesuma masa itu masih mengendalikan pemerintahan di tempat persembunyiannya di Sumbawa Barat (Taliwang), bahkan tahun 1723-1724 pulang meneruskan perlawanan Pejanggiq melalui kerajaan Purwa (Purwadadi-Sakra) sebuah kerajaan bagian dari Pejanggiq yang masih bertalian darah.
Inilah faktor-faktor yang membuat orang terkadang bingung membaca tulisan yang sebenarnya bukan sejarah, tetapi sekedar berwawasan sejarah saja. Lain lagi upaya orang Sasak (Selaparang) memboikot atau merampas pelayaran Belanda dari maluku ke Batavia (Jakarta) membawa rempah-rempah yang bersekutu dengan Makasar, Bima, Dompu, Sumbawa, Ternate dan Tidore di sepanjang Teluk Saleh-Selat Makasar pasca perang Selaparang – VOC (Belanda) tahun 1675. Oleh banyak kalangan penulis sejarah Nusantara, dikatakannya sebagai bajak laut. Padahal justru mereka itu adalah pahlawan-pahlawan Nusantara yang tidak menghendaki berkuasanya Belanda di Indonesia.
Bahkan dalam sejarah Nasional, ketika orang di Ambon (Maluku) telah menemukan bukti sejarah bahwa, Pati Mura yang selama ini dikenal dengan nama Thomas Matulesi, tidak lain dari Ahmad Matulezi yang melakukan perlawanan habis-habisan terhadap imperialisme Barat di Maluku. Lalu nama Ahmad diganti menjadi Thomas. Toh masih juga sejarah nasional menulisnya demikian. Sengajakah pihak Belanda melakukan itu? Jawabnya ‘bisa ya, bisa tidak’. Kita sebut ‘ya’ karena ketika memandang bahwa yang diupayakan Belanda bukan sekedar penjajahan politik, tapi juga penjajahan melalui penyebaran agama Nasrani. Adanya misionaris yang secara gencar menyebarkan agama Nasrani, bahkan sampai-sampai Belanda mengirim Snouck Hurgronye belajar Islam dan tinggal bertahun-tahun di Makkah, sampai bisa memplesetkan sejumlah ayat al-qur’an dan hadits, adalah bukti dan upaya kegamangan yang dilakukan imperialisme Belanda dalam menguasai Nusantara.
Yang terakhir, barangkalai inilah sekelumit pengantar, sebagai awal penulisan Sejarah Daerah Lombok dengan Arya Banjar Getas. Harapannya, Insya Allah kita bertemu kembali pada edisi mendatang. (L.Pangkat Ali)

(2)

Tulisan dengan judul “Arya Banjar Getas” ini, disuguhkan bagi para pembaca ‘Perspektif’, khususnya generasi muda. Harapannya, agar mereka dapat memperoleh dan memiliki nuansa sejarah daerahnya. Paling tidak mereka akan tahu, sebutan-sebutan Arya Banjar Getas (ABG) bukan sekedar personal Arya Sudarsana semata, muncul sebagai pimpinan laskar (1675-1678) sampai menjadi patih ke lima Selaparang antara tahun 1715-1716, tetapi lebih dari sekedar pribadi.

Arya Banjar Getas, akhirnya menjadi nama sebuah kerajaan yang semula bernama kerajaan ‘Memelaq’, karena berpusat di Memelaq tahun 1722-1742 (sekarang di kelurahan Gerunung-Praya), lalu pindah ke Gawah Brora (berganti nama menjadi Praya, dibangun mulai tahun 1740 selesai tahun 1742 dan hingga kini bernama Praya). Jarak antara Gawah Memelaq beberapa kilo meter kearah Utara kota Praya. Sejak itu (1742) kerajaan Memelaq lebih popular dengan sebutan kerajaan Arya Banjar Getas (bukan kerajaan Praya).
Di samping nama dan fungsi di atas, sebutan Arya Banjar Getas, akhirnya menjadi nama gelar dinasti raja-raja yang memerintah di kerajaan itu (mulai Arya Sudarsana sebagai ABG I tahun 1722-1740 dan meninggal tahun 1742, berlanjut sampai Raden Wiracandra sebagai ABG VII) dalam kurun waktu berdiri sampai hancurnya kerajaan Arya Banjar Getas yang di akhir Congah (perang) Praya I tahun 1739-1741. Kerajaan boleh hancur tetapi perlawanan terhadap penjajah harus jalan terus.
Demikianlah kiprah generasi Arya Banjar Getas, tidak hingga disitu. Perlawanan terhadap kekuasaan Karang Asem masih tetap berlanjut sampai akhir Congah Praya II yang lebih dikenal dengan sebutan Perang Lombok (1891-1894) yang mengakhiri kekuasaan Dinasti Karang Asem di Lombok. Perlawanan Praya masih berlanjut lagi di saat berkuasanya Belanda (1894). Lewat berkali-kali perang rakyat Sasak yang dimotori Praya melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Kerajaan Selaparang Sekilas

Kerajaan Selaparang merupakan sebuah kerajaan terbesar di Pulau Lombok sejak abad XIII hingga abad XVIII. Kerajaan ini tumbuh dan berkembang dalam dua periode. Periode pertama, sebelum Islam masuk ke Lombok (abad XIII-XV) dan periode ke dua, setelah kerajaan Selaparang menjadi kerajaan Islam (abad XV-XVIII). Pada periode sebelum Islam, Selaparang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit (tahun 1357 M) di bawah pimpinan Panglima Mpu Nala.
Kedatangan pasukan Majapahit ke Selaparang, sebenarnya pertama kali tahun 1343 M, berbarengan dengan upaya menaklukkan kerajaan-kerajaan di Bali. Namun mengalami kegagalan karena medan menuju ibukota Selaparang dari pantai (Labuhan Lombok, Gili Sulat dan sekiarnya) cukup jauh dan berat. Lebih-lebih harus melintasi bukit dan gunung yang terjal. Hal ini sebenarnya mudah ditebak oleh mereka yang mengerti akan makna “Selaparang” (dari bahasa Kawi; sela = batu; parang = cadas). Dengan demikian Selaparang berarti batu cadas (istilah bahasa Sasak = batu rerejeng). Tidak tepat jika disebut batu karang, sebab karang adanya di laut, sementara Selaparang letaknya di atas ketinggian bukit.
Dalam rangka Gajah Mada sebagai mahapatih kerajaan Majapahit sedang melaksanakan sumpah palapanya untuk mempersatukan Nusantara, tahun 1343, Gajah Mada memerintahkan Panglima Nala untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di bagian Timur Nusantara, antara lain Dompu di Pulau Sumbawa dan Selaparang di Pulau Lombok. Ekspedisi ini mengalami kegagalan total, karena pihak Majapahit kekurangan logistik dan medan yang ditempuh memang berat seperti yang dikemukakan di atas. Berbekal pengalaman atas kegagalan pada tahun 1343 M, ekspedisi Majapahit diperbesar jumlahnya serta dipersiapkan persenjataan maupun logistiknya secara matang.
Pada tahun 1357 M, Selaparang dan Dompu ditundukkan dan ikut bergabung dibawah panji-panji kebesaran Majapahit yang mendirikan kesatuan Nusantara. Bahkan dalam sebuah catatan yang dikenal dengan sbutan ‘Bencingah Punan’ (diambil dari nama bencingah atau balai agung, tempat menjamu tamu kehormatan) dinyatakan bahwa, setelah Selaparang menyatukan diri dengan Majapahit, Gajah Mada datang ke Selaparang.
Kehadiran Mahapatih Gajah Mada yang meminta pertemuan damai, disambut baik oleh Prabu Inopati bersama Patihnya Rangga Bumbung. Perundingan diadakan di pusat kerajaan Selaparang dengan catatan, para pembesar Majapahit harus hadir tanpa senjata jika memang ingin damai. Mereka boleh diikuti para prajuritnya.
Ratusan ekor kuda dipersiapkan oleh Selaparang untuk menjemput tamunya yang ketika itu telah berada di Karang Mumbul. Kesepakatan perundingan Bencingah Punan tersebut diukir dalam sebuah prasasti Punan (kini prasasti Punan tersebut menjadi koleksi Museum Leiden yang diboyong Belanda. Termasuk pula buku Negara Kertagama yang ditemukan Belanda di Lombok, tepatnya di Puri Cakranegara, ketika Cakranegara jatuh ke tangan Belanda 1894).
Tahun 1357 Majapahit menguasai Selaparang secara damai, termasuk kedatangan Gajah Mada. Kemudian Majapahit runtuh tahun 1478 M dengan cendrasengkalanya ;”sirna hilang kerta ning bhumi”. Memang masih ada pemerintahan yang bertahan atas nama Majapahit sampai tahun 1548 dengan rajanya yang terakhir bernama Girindrawardhana bergelar Prabu Brawijaya VII yang malang di kota Malang sekarang ini.
Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan daerah lainnya bermunculan pasca Majapahit. Demikian pula Islam disebarkan ke Lombok oleh para ulama, sejalan dengan pengaruh Wali Songo di Pulau Jawa. Ratu Praktikel (Sunan Mas) yang dikenal pula dengan nama Sunan Prapen, putra Sunan Giri (Gersik) merupakan tokoh penganjur agama Islam yang besar jasanya bagi proses Islamisasi di Pulau Lombok. Agama Islam akhirnya diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Sasak, bahkan menjadi agama resmi kerajaan Selaparang sebagai penguasa Lombok.
Persekutuan Selaparang dengan para Sultan di Makasar, Bima, Sumbawa, Ternate dan Tidore menghadapi VOC (Kompeni Belanda) sempat menimbulkan ketegangan antara VOC dengan Selaparang. Karena, VOC ingin menopoli rempah-rempah di Maluku. Selaparang mengirim bala bantuannya sejumlah 20 kapal (perahu layar). Jangan kita heran jika sampai kini di Ternate masih terdapat perkampungan dengan nama kampung Sasak.
Berlanjut dengan jatuhnya Makasar ke tangan VOC, ditandai dengan perjanjian Bongaya, peran Selaparang menjadi semakin penting. Selaparang dijadikan pusat pertahanan kerajaan-kerajaan Islam Makasar, Bima dan Sumbawa. Peperangan antara Selaparang melawan VOC yang dibantu oleh Sultan Makasar, Bima dan Sumbawa, pecah pada tanggal 16 Maret 1675. Pasukan Belanda dipimpin oleh Kapten Holstijn. Sedang pasukan Selaparang dipimpin oleh tiga orang patihnya, masing-masing Raden Abdi Wirasantana, Raden Kawisanir Kusing dan Arya Busing.
Sejarah Belanda mencatat, betapa hebatnya pertempuran antara VOC dengan Selaparang. Btapa hebatnya Abdi Wirasantana dkk. Mengobrak-abrik pasukan Belanda, sehingga Holstijn tak mampu menaklukkan Selaparang dan meninggalkan Labuhan Lombok tanpa hasil apa-apa. Sayangnya, semua ini tak pernah terbaca dalam buku pelajaran sejarah nasional, sehingga orang Sasak seolah-olah hanya menjadi penonton ketika zaman VOC dan kolonial Belanda di bumi Nusantara tercinta ini.
Yang paling menyedihkan, faham orang Belanda yang menganggap prajurit Selaparang sebagai perompak VOC di sekitar laut Jawa, ikut dibahasakan oleh orang-orang Indonesia sendiri dengan sebutan yang sama yakni “perompak (bajak laut)” Padahal kalau mereka kaji, mereka adalah para pahlawan Sasak yang tidak senang terhadap penjajah Belanda. Hal ini adalah sebuah “pemutarbalikan fakta sejarah”
Karena itu, lewat tulisan ini perlu dipermasalahkan bahwa, pelurusan sejarah nasional mutlak diperlukan. Lebih-lebih masih banyaknya sejarah perjuangan rakyat diberbagai daerah yang belum terbaca dibuku sejarah Indonesia. Mungkin banyak orang Sasak yang tidak tahu kalau perang Sikka-di NTT melawan Belanda, itu dimotori orang Sasak yang dibuang ke sana, karena perang melawan Belanda. Mulai dari perang Sesela, perang Apitaiq, perang Gandor, perang Praya III, perang Pringgabaya I, II, perang Tuban Sengkol dan perang Batu Grantung Anyar-Bayan dalam kurun waktu tahun 1898-1913, banyak yang dibuang ke luar daerah jika mereka tertawan. Ada yang dibuang ke Sikka (NTT), Digul-Irian Barat (sekarang Papua), Dili (Tim-Tim), Sawahlunto, Jambi, Lampung, Riau (Batam), Bangka, Banyuwangi, Surabaya, Batavia (Betawi), Bandung, Cirebon dan Gili Trawangan (Lombok).
Ketika raja Sikka bernama Nikiniki berontak, yang mengajaknya mengangkat senjata, justru Lalu Pujut, Mamiq Padma dari Sengkol, Mamiq Ulan-Batujai, Papuq Ayu, Lalu Anting, Sirawi dan Sukur dari Pringgabaya. Dengan berbekalkan pengalaman angkat senjata di Lombok sampai mereka terbuang ke sana. Lalu Pujut, Lalu Anting dan Sirawi, akhirnya tewas dalam perang Sikka itu. Raden Ratsasih dan Raden Ratsayang (dua bersaudara) dari Batu Grantung dkk. dibuang ke Banyuwangi. Guru Saleh-Apitaiq dkk. dibuang ke Dili. Lalu Mustafa dari Praya dibuang ke Digul. Malah ketika Bung Karno dibuang ke Digul (1937), ia dapat membantunya menyiasati kelangkaan kertas. Daun pisang kering dibuat oleh Mustafa ini menjadi pengganti kertas dengan disetrika agar tidak banyak kerutan.
Sejalan dengan konplik Selaparang dengan VOC tahun 1675, muncul seorang tokoh legendaris Gumi Sasak (Lombok) bernama Arya Sudarsana, yang di Selaparang kemudian dikenal dengan nama Arya Banjar (belum bernama Arya Banjar Getas). Kelak di Pejanggiq baru dikenal dan popular dengan nama Arya Banjar Getas. Tokoh ini hampir tak pernah dilupakan orang, kendati hidup dan berkiprah di akhir abad XVII hingga memasuki pertengahan abad XVIII.
Banyak nama dan gelar yang disandangnya. Ini disebabkan karena, ketika hidupnya mengabdikan diri untuk bangsa dan Negara Sasak di gumi Lombok sebelum lahir NKRI. Arya Sudarsana melalui kiprahnya sebagai prajurit kerajaan Selaparang menghadapi VOC dalam perang tahun 1675. Kiprahnya sebagai prajurit berlanjut ketika Selaparang menghadapi serangan dari kerajaan Gelgel-Bali tahun 1677 dan 1678. Memang pada tahun 1616,1624 dan 1630 kerajaan Gelgel sudah mencoba ingin memperluas kekuasaannya ke wilayah timur (Lombok), namun tak pernah berhasil. (L.Pangkat Ali) 

Sumber: http://sasak-kopang.blogspot.com

Sponsor By



Sarana berbagi informasi dunia kerja dan usaha